FANGAJANA ANGGOTAKU’

 


FANGAJANA ANGGOTAKU’

(Kehendak Tuhan)

Satu ketika saya duduk-duduk bersama sahabat saya Rudhi, tepatnya di sebuah kontrakan di Samata Kab. Gowa. Sedikit saya bercerita tentang kedekatan saya dengan sahabat saya yang satu ini. Kami seangkatan saat memasuki jenjang pendidikan di MA Pergis Ganra tahun 2007. 2010 kami lulus MA dan sempat kami berpisah, beliau melanjutkan pendidikan S1 di UIN Alauddin Makassar sedangkan saya sendiri melanjutkan pendidikan di STAIN Parepare. Tahun 2015 setelah kami telah menamatkan jenjang pendidikan S1 saat itu kala Rudhi terpilih sebagai Ketua Umum pertama IKA-MAPIG periode 2015-2016 saya menjabat sebagai sekertari umumnya. Sejak saat itu kami punya banyak kesempatan untuk berkomunikasi. Terlebih lagi pada tahun 2016-2017 saya dengan beliau berjuang bersama melanjutkan study di Program Pascasarjana UIN Alauddin Makassar untuk jenjang S2. Saat itu kami lebih intens lagi berkomunikasi karena dalam sekali seminggu kami bersama-sama berangkat ke makassar dan balik lagi ke soppeng, biasanya dua hari di Makassar balik lagi ke Soppeng. Saat istirahat dalam perjalanan atau pada saat di kontrakan kami banyak berdiskusi tentang berbagai hal, bahkan tidak jarang pembicaraan kami sampai kepada hal-hal yang bersifat peribadi. Jadi sedikit banyaknya saya dan beliau sudah saling memahami. Sejak tahun 2015 sampai saat ini sahabat saya ini mengabdikan diri menjadi pembina di Pondok Pesantren Yayasan Perguruan Islam Ganra Soppeng. Beliau juga setelah menyelesaikan S2 nya mengabdikan diri sebagai Dosen di IAI As’adiyah Sengkang Kab. Wajo, dan saat ini beliau sedang mempersiapkan diri untuk mengikuti program Pendidikan Kader Ulama Masjid Istiqlal Jakarta Tahun akademik 2021-2023.

Kembali ke topik, kala itu kami sedang berdiskusi. Tidak tau awalnya dari mana sampai ke pembahasan pribadi saya. Di kala itu memang teman dekat saya bakal melangsungkan pernikahan, beliau pun bertanya kepada saya tentang hal itu dan saya membenarkan dan spontan sahabat saya ini bilang kepada saya. Namu Seddi Lino Melo Sarekkoammengngi Sialako Sibawa Yaro, Narekko de Nafueloi Fuang Allah Ta’ala, De Totu Musiala. Namu Seddi Lino Melo Passarakko Sibawa Yaro, Narekko Fuang Allah Ta’ala Makkada Sialako, Sialakotu.  Jika diartikan kedalam bahasa Indonesia kurang lebih artinya seperti ini : “Meskipun Seisi dunia berkehendak agar kamu berjodoh dengan dia, Namun Allah tidak berkehendak, maka kamu tidak kan berjodoh dengannya. Meskipun seisi dunia berkehendak untuk memisahkan kamu dengan dia, namun Allah berkehendak untuk menjadikan kalian berjodoh, maka kalian akan berjodoh.

 Pesan beliau ini selalu saya ingat. Dan ini bisa menjadi pegangan bagi kita bahwa Allah lah yang berkuasa sepenuhnya atas kita. Tugas kita adalah berupayah semaksimal mungkin untuk mencapai apa yang kita inginkan namun yang menentukan hasil akhir adalah Allah yang Maha Kuasa. Yakin akan bisa mendapatkan sesuatu itu baik namun jangan sampai melupakan satu hal yakni Kehendak Tuhan. Karena Allah yang maha berkuasa atas segalanya maka seyogyanya sebagai uammat yang beriman agar setiap sesuatu yang kita inginkan, setiap usaha yang kita lakukan hendaknya dibarengi dengan menyandarkan harapan kepada Allah yakni setelah melakukan usaha semaksimal mungkin maka barengi dengan doa Kepada Allah Swt.

Semoga Allah Swt memudahkan segala urusan kita serta meng’ijabah setiap doa-doa kita. Aamiin Yaa Rabbal ‘Alamiin

Wallahu a'lam bish-shawab

 

By. Andi Aman, S.Pd.I, M.Pd

 

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Khutbah Idul Adha Berbahasa Bugis

FAKEYANG SALAMA’NA LATO’NA ANGGOTAKU’